[ID-PPA] St.79 — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng | Kütüphane.osmanlica.com

[ID-PPA] St.79 — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng

İsim [ID-PPA] St.79 — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng
Basım Yeri Pura Pakualaman - Pura Pakualaman
Konu literature
Tür Kitap
Dil Cava dili
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 1118
Fiziksel Boyutlar 20,5 x 33,75 cm
Kütüphane: Kalamos
Demirbaş Numarası St.79
Kayıt Numarası ID9Book_manuscript_00000719
Lokasyon Pura Pakualaman
Notlar Bahan sampul: kulit binatang. Ukuran sampul: 21,5 x 34 cm, Kendor. — Bahan sampul: kulit binatang. Ukuran sampul: 21,5 x 34 cm, Kendor. — Ada — black — paper — Teks berbentuk puisi: macapat. Isi naskah ini antara lain sebagai berikut. 1. Sěrat Rama (h. 4—378) Teks diawali dengan lukisan penyesalan Raja Dasarata karena telah membuang putra sulungnya, yaitu Sri Rama ke hutan Dandaka. Raja Dasarata mengkat karena kesedihan yang mendalam. Teks diakhiri dengan keharuan rakyat Ayodya menyambut kedatangan Sri Rama dan Sinta, dan nasihat Rama kepada Bharata dan Satrugna tentang nistha-madya-utama, serta kembalinya Wibisana dan Sugriwa ke kerajaannya sendiri. 2. Sěrat Arjunawijaya (h. 386—733) Teks diawali dengan cerita tentang kelahiran Rawana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana, serta peristiwa diterimanya tapa Rawana oleh para dewa setelah ia bertapa selama 1000 tahun. Teks diakhiri dengan cerita kekalahan Rawana setelah berperang melawan Arjunasasrabahu, dilanjutkan dengan penyerahab Rawana oleh Arjunasasrabahu kepada ayahnya, yaitu Begawan Kesrawa. 3. Sěrat Werdikyeng Mulya (733—767), memuat ajaran dari keturunan raja Mataram kepada Raden Rara Resminingdyah di ndalem Suryaningratan agar menjadi perempuan yang berbudi luhur. 4. Suluk Luwang (h. 767—773), memuat percakapan antara seorang santri dengan seekor burung prenjak yang bisa berbicara. Adapun isi percakapannya adalah tentang penjabaran “ilmu rasa”. 5. Dongeng tentang pembagian warisan (h. 773—806). 6. Dongeng tentang seorang janda (h. 806—809), cerita tentang seorang janda yang hidup di hutan dengan anak laki-lakinya beserta seekor anjing yang jinak dan setia. 7. Dongeng tentang orang yang sering berbuat onar dan mengadu domba. 8. Cerita Panji (h. 820—852), memuat petualangan Panja Brangta Irawan. 9. Cerita Peksi Bayan (h. 853—861), berisi cerita tentang kerajaan Puh Jenggi yaitu kerajaan para burung bayan (bethet). Teks diawali dengan cerita tentang ramalan ahli nujum kerajaan Puh Jenggi tentang burung Johan yang akan merusak ketentraman kerajaan, tetapi ternyata tidak terbukti. Teks diakhiri dengan cerita tentang 41 burung bayan yang terkena perangkap seorang demang, 40 di antaranya bisa meloloskan diri dengan berpura-pura mati, hanya seekor yang terperangkap, yaitu ratu dari para burung bayan tersebut. 10. Dongeng tentang seorang anak nakal (h. 861—863), cerita tentang orang tua yang mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal, tetapi kenakalannya justru menimbulkan berbagai macam kelucuan. 11. Dongeng tentang seorang santri (h. 864—866), memuat cerita tentang seorang santri yang diremehkan oleh guru dan teman-temannya, tetapi sebenarnya santri tersebut mempunyai kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya. 12. Cuplikan Serat Ambya (h. 867—875), memuat cerita Nabi Musa, di antaranya ketika ia berguru kepada Nabi Kidir. 13. Cerita Nabi Sulaiman (h. 875—880), cerita tentang Nabi Sulaiman yang menyelamatkan seekor belalang dari seekor burung. 14. Cerita tentang seorang raja yang naik haji ke Mekah sehingga kerajaannya menjadi terbengkalai (h. 880—884). 15. Cerita tentang Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang jatuh cinta kepada seorang putri Cina yang ditemuinya dalam mimpi (h. 884—894). 16. Cerita tentang ahli pembuat keris (h. 894—902), kisah beberapa pembuat keris di antaranya adalah Ki Japan Pulobang dari kerajaan Pajajaran dan Ki Supa dari kerajaan Majapahit. 17. Cerita tentang seorang pengemis (h. 902—905), cerita tentang seorang pengemis yang menjadi kaya kemudian jatuh miskin karena tidak bisa mengatur harta bendanya. 18. Ajisaka (h. 906—909), cerita tentang Ajisaka dan sejarah terbentuknya aksara Jawa yang terdiri atas 20 aksara. 19. Lukisan Surga dan Neraka (h. 909—914), kisah tentang Nabi Muhammad menceritakan lukisan surga dan neraka kepada para sahabatnya, serta cerita tentang Abu Hurairoh, yaitu sahabat Nabi yang gemar memelihara kucing. 20. Cerita Nabi Sulaiman dengan para Binatang (h. 914—935), menceritakan Nabi Sulaiman dengan ikan “ucěng gagang” yang bernafsu serakah. Nabi Sulaiman dengan burung běri (burung garuda), cerita Nabi Sulaiman dengan raja semut yang bernama Raja Namli, dan cerita perseteruan antara para semut dengan gajah yang dimenangkan oleh para semut. 21. Cerita tentang seorang raja yang sangat memperhatikan abdinya, sampai raja tersebut sering mencuri dengar pembicaraan para abdi apabila saling berkeluh kesah (h. 926—950). 22. Permainan Tebak-tebakan/Cangkriman (h. 950—961), berisi permainan tebak-tebakan dalam bentuk tembang macapat. 23. Cerita Ratu Muslim (h. 962—965), berisi cerita tentang ratu Muslim dari kerajaan Sonya Permana ketika menjamu secara besar-besaran para tamu yang berasal dari Mekah. 24. Keterangan tentang peristiwa perjanjian yang dilakukan di sebuah kantor (teks terputus dan tulisan terbalik) (h. 966). 25. Catatan tentang tari bedhaya dan srimpi (h. 1015—1102). 26. Asmaralaga (h. 1102—1108), memuat pemikiran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati tentang strategi perang, dilatarbelakangi cerita Pandawa dan Kurawa pada saat berguru kepada Drona sampai dengan rencana penyingkiran Pandawa oleh Kurawa. Dalam teks ini dimuat pula keterangan tentang aba-aba untuk para prajurit dan visualisasi strategi perang darat, antara lain oleh Kumpeni.
Sınıf numarası St.79
Koleksiyon Pura Pakualaman
Editör S.R. Saktimulya
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete
Katalog St.79

[ID-PPA] St.79 — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng — Serat Rama, Arjunawijaya, saha Kempalan Dongeng

Basım Yeri Pura Pakualaman - Pura Pakualaman
Konu literature
Tür Kitap
Dil Cava dili
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 1118
Fiziksel Boyutlar 20,5 x 33,75 cm
Kütüphane Kalamos
Demirbaş Numarası St.79
Kayıt Numarası ID9Book_manuscript_00000719
Lokasyon Pura Pakualaman
Notlar Bahan sampul: kulit binatang. Ukuran sampul: 21,5 x 34 cm, Kendor. — Bahan sampul: kulit binatang. Ukuran sampul: 21,5 x 34 cm, Kendor. — Ada — black — paper — Teks berbentuk puisi: macapat. Isi naskah ini antara lain sebagai berikut. 1. Sěrat Rama (h. 4—378) Teks diawali dengan lukisan penyesalan Raja Dasarata karena telah membuang putra sulungnya, yaitu Sri Rama ke hutan Dandaka. Raja Dasarata mengkat karena kesedihan yang mendalam. Teks diakhiri dengan keharuan rakyat Ayodya menyambut kedatangan Sri Rama dan Sinta, dan nasihat Rama kepada Bharata dan Satrugna tentang nistha-madya-utama, serta kembalinya Wibisana dan Sugriwa ke kerajaannya sendiri. 2. Sěrat Arjunawijaya (h. 386—733) Teks diawali dengan cerita tentang kelahiran Rawana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana, serta peristiwa diterimanya tapa Rawana oleh para dewa setelah ia bertapa selama 1000 tahun. Teks diakhiri dengan cerita kekalahan Rawana setelah berperang melawan Arjunasasrabahu, dilanjutkan dengan penyerahab Rawana oleh Arjunasasrabahu kepada ayahnya, yaitu Begawan Kesrawa. 3. Sěrat Werdikyeng Mulya (733—767), memuat ajaran dari keturunan raja Mataram kepada Raden Rara Resminingdyah di ndalem Suryaningratan agar menjadi perempuan yang berbudi luhur. 4. Suluk Luwang (h. 767—773), memuat percakapan antara seorang santri dengan seekor burung prenjak yang bisa berbicara. Adapun isi percakapannya adalah tentang penjabaran “ilmu rasa”. 5. Dongeng tentang pembagian warisan (h. 773—806). 6. Dongeng tentang seorang janda (h. 806—809), cerita tentang seorang janda yang hidup di hutan dengan anak laki-lakinya beserta seekor anjing yang jinak dan setia. 7. Dongeng tentang orang yang sering berbuat onar dan mengadu domba. 8. Cerita Panji (h. 820—852), memuat petualangan Panja Brangta Irawan. 9. Cerita Peksi Bayan (h. 853—861), berisi cerita tentang kerajaan Puh Jenggi yaitu kerajaan para burung bayan (bethet). Teks diawali dengan cerita tentang ramalan ahli nujum kerajaan Puh Jenggi tentang burung Johan yang akan merusak ketentraman kerajaan, tetapi ternyata tidak terbukti. Teks diakhiri dengan cerita tentang 41 burung bayan yang terkena perangkap seorang demang, 40 di antaranya bisa meloloskan diri dengan berpura-pura mati, hanya seekor yang terperangkap, yaitu ratu dari para burung bayan tersebut. 10. Dongeng tentang seorang anak nakal (h. 861—863), cerita tentang orang tua yang mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal, tetapi kenakalannya justru menimbulkan berbagai macam kelucuan. 11. Dongeng tentang seorang santri (h. 864—866), memuat cerita tentang seorang santri yang diremehkan oleh guru dan teman-temannya, tetapi sebenarnya santri tersebut mempunyai kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya. 12. Cuplikan Serat Ambya (h. 867—875), memuat cerita Nabi Musa, di antaranya ketika ia berguru kepada Nabi Kidir. 13. Cerita Nabi Sulaiman (h. 875—880), cerita tentang Nabi Sulaiman yang menyelamatkan seekor belalang dari seekor burung. 14. Cerita tentang seorang raja yang naik haji ke Mekah sehingga kerajaannya menjadi terbengkalai (h. 880—884). 15. Cerita tentang Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang jatuh cinta kepada seorang putri Cina yang ditemuinya dalam mimpi (h. 884—894). 16. Cerita tentang ahli pembuat keris (h. 894—902), kisah beberapa pembuat keris di antaranya adalah Ki Japan Pulobang dari kerajaan Pajajaran dan Ki Supa dari kerajaan Majapahit. 17. Cerita tentang seorang pengemis (h. 902—905), cerita tentang seorang pengemis yang menjadi kaya kemudian jatuh miskin karena tidak bisa mengatur harta bendanya. 18. Ajisaka (h. 906—909), cerita tentang Ajisaka dan sejarah terbentuknya aksara Jawa yang terdiri atas 20 aksara. 19. Lukisan Surga dan Neraka (h. 909—914), kisah tentang Nabi Muhammad menceritakan lukisan surga dan neraka kepada para sahabatnya, serta cerita tentang Abu Hurairoh, yaitu sahabat Nabi yang gemar memelihara kucing. 20. Cerita Nabi Sulaiman dengan para Binatang (h. 914—935), menceritakan Nabi Sulaiman dengan ikan “ucěng gagang” yang bernafsu serakah. Nabi Sulaiman dengan burung běri (burung garuda), cerita Nabi Sulaiman dengan raja semut yang bernama Raja Namli, dan cerita perseteruan antara para semut dengan gajah yang dimenangkan oleh para semut. 21. Cerita tentang seorang raja yang sangat memperhatikan abdinya, sampai raja tersebut sering mencuri dengar pembicaraan para abdi apabila saling berkeluh kesah (h. 926—950). 22. Permainan Tebak-tebakan/Cangkriman (h. 950—961), berisi permainan tebak-tebakan dalam bentuk tembang macapat. 23. Cerita Ratu Muslim (h. 962—965), berisi cerita tentang ratu Muslim dari kerajaan Sonya Permana ketika menjamu secara besar-besaran para tamu yang berasal dari Mekah. 24. Keterangan tentang peristiwa perjanjian yang dilakukan di sebuah kantor (teks terputus dan tulisan terbalik) (h. 966). 25. Catatan tentang tari bedhaya dan srimpi (h. 1015—1102). 26. Asmaralaga (h. 1102—1108), memuat pemikiran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati tentang strategi perang, dilatarbelakangi cerita Pandawa dan Kurawa pada saat berguru kepada Drona sampai dengan rencana penyingkiran Pandawa oleh Kurawa. Dalam teks ini dimuat pula keterangan tentang aba-aba untuk para prajurit dan visualisasi strategi perang darat, antara lain oleh Kumpeni.
Sınıf numarası St.79
Koleksiyon Pura Pakualaman
Editör S.R. Saktimulya
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete
Katalog St.79
Qalamos
Kalamos yönlendiriliyorsunuz...

Lütfen bekleyiniz.