[ID-MUSALI] 86/TH/2/YPAH/2005 | Kütüphane.osmanlica.com

[ID-MUSALI] 86/TH/2/YPAH/2005

İsim [ID-MUSALI] 86/TH/2/YPAH/2005
Yazar Muhammad Zain
Basım Yeri Stiftung und Museum Ali Hasjmy - Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Konu religion
Tür Kitap
Dil Malayca (makro dil)
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 108
Fiziksel Boyutlar 15.5 x 19.5 cm
Kütüphane: Kalamos
Demirbaş Numarası 86/TH/2/YPAH/2005
Kayıt Numarası ID11Book_manuscript_00000104
Lokasyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Notlar karton hijau, sudah dijilid ulang — karton hijau, sudah dijilid ulang — black — Arabic script → Naskh — paper — Di bagian awal teks dikemukakan pendapat para ulama tentang status orang yang bersikap taklid (hanya ikut-ikutan) dalam beragama. Dijelaskan bahwa menurut sebagian ulama, orang taqlid itu dapat dikategorikan sebagai kafir, tapi menurut sebagian lagi tetap mukmin, dan pendapat kedua inilah yang lebih masyhur. Penulis kemudian mengemukakan pentingnya mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pokok-pokok keimanan (ushuluddin): “... bermula hukum pada belajar ilmu ushuluddin dan mengajarkan dia wajib pada syar’i, artinya tidak dimudahkan pada meninggalkan dia...”. Salah satu pengetahuan ushuluddin yang dikemukakan adalah mengenai sifat-sifat Tuhan. Penulis menjelaskan: “... dan adapun dalil wajib bersifat Allah taala dengan qudrat dan iradat dan ilmu dan hayat, maka karena bahwasanya jikalau nafyi suatu daripadanya niscaya tiada diperoleh suatu daripada segala yang baharu...”. Selain sifat-sifat Tuhan, penulis juga mengemukakan pembahasan tentang sifat-sifat pada rasul. Ditegaskan bahwa setiap rasul pasti tidak akan berdusta karena bahwa sekalian mereka itu jikalau tiada benar mereka itu niscaya lazimlah dusta pada khabar Allah taala. Pada beberapa halaman berikutnya ada uraian panjang yang ditulis menggunakan jenis huruf yang agak berbeda dengan teks Bidāya al-Hidāya sebelumnya. Untuk memastikan apakah uraian ini merupakan bagian dari teks Bidāya al-Hidāya juga, perlu dilakukan perbandingan dengan salinan teks Bidāya al-Hidāya yang lain. Di antara yang dikemukakan dalam halaman-halaman tersebut adalah mengenai keutamaan seseorang yang berilmu dibanding orang yang tidak berilmu, meskipun orang yang tidak berilmu itu seorang yang rajin ibadah. Dijelaskan bahwa: “... kelebihan orang yang alim atas orang yang ibadah yang tiada alim seperti kelebihanku atas umatku...”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan alim dalam konteks ini adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya itu dengan ikhlas. Jika orang berilmu ini tidak mengamalkan ilmunya, maka orang itu seperti keledai menumpang ia di atas belakangnya akan kitab yang besar padahal tiada mengetahui ia barang yang di dalamnya dan hanya satu diketahuinya itu berat jua... Selain itu, dijelaskan juga masalah-masalah keimanan, seperti tanda-tanda kiamat. Salah satunya disebutkan bahwa tiada berdiri kiamat hingga adalah orang yang baik dahulu jadi jahat daripada anak sejahat-jahat manusia... tanda lainnya adalah jika sudah dihinakan akan kebajikan, dan dimuliakan yang kejahatan... Selain masalah-masalah di atas, uraian tersebut juga menyinggung sedikit hal yang berkaitan dengan tasawuf. Dijelaskan bahwa ilmu tasawuf itu satu bahagi daripada ilmu syariat nabi Muhammad karena ilmu syariat itu tida bahagi: pertama ilmu fikih, kedua ilmu ushuluddin, ketiga ilmu tasawuf. Di antara tokoh-tokoh tasawuf yang disebut dalam teks ini adalah shaikh Aḥmad al-Qushsh, Shaikh Mul Ibrāhīm al-Krn, dan seorang muridnya dari Aceh, Shaikh Abdurrauf ‘Ali al-Jawi. Keterangan ini memberikan sedikit penjelasan adanya hubungan antara penulis teks dengan Shaikh Abdurrauf dan ajaran-ajarannya.
Sınıf numarası 86/TH/2/YPAH/2005
Koleksiyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Editör Oman Fathurahman/Mursyid
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete

[ID-MUSALI] 86/TH/2/YPAH/2005

Yazar Muhammad Zain
Basım Yeri Stiftung und Museum Ali Hasjmy - Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Konu religion
Tür Kitap
Dil Malayca (makro dil)
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 108
Fiziksel Boyutlar 15.5 x 19.5 cm
Kütüphane Kalamos
Demirbaş Numarası 86/TH/2/YPAH/2005
Kayıt Numarası ID11Book_manuscript_00000104
Lokasyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Notlar karton hijau, sudah dijilid ulang — karton hijau, sudah dijilid ulang — black — Arabic script → Naskh — paper — Di bagian awal teks dikemukakan pendapat para ulama tentang status orang yang bersikap taklid (hanya ikut-ikutan) dalam beragama. Dijelaskan bahwa menurut sebagian ulama, orang taqlid itu dapat dikategorikan sebagai kafir, tapi menurut sebagian lagi tetap mukmin, dan pendapat kedua inilah yang lebih masyhur. Penulis kemudian mengemukakan pentingnya mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pokok-pokok keimanan (ushuluddin): “... bermula hukum pada belajar ilmu ushuluddin dan mengajarkan dia wajib pada syar’i, artinya tidak dimudahkan pada meninggalkan dia...”. Salah satu pengetahuan ushuluddin yang dikemukakan adalah mengenai sifat-sifat Tuhan. Penulis menjelaskan: “... dan adapun dalil wajib bersifat Allah taala dengan qudrat dan iradat dan ilmu dan hayat, maka karena bahwasanya jikalau nafyi suatu daripadanya niscaya tiada diperoleh suatu daripada segala yang baharu...”. Selain sifat-sifat Tuhan, penulis juga mengemukakan pembahasan tentang sifat-sifat pada rasul. Ditegaskan bahwa setiap rasul pasti tidak akan berdusta karena bahwa sekalian mereka itu jikalau tiada benar mereka itu niscaya lazimlah dusta pada khabar Allah taala. Pada beberapa halaman berikutnya ada uraian panjang yang ditulis menggunakan jenis huruf yang agak berbeda dengan teks Bidāya al-Hidāya sebelumnya. Untuk memastikan apakah uraian ini merupakan bagian dari teks Bidāya al-Hidāya juga, perlu dilakukan perbandingan dengan salinan teks Bidāya al-Hidāya yang lain. Di antara yang dikemukakan dalam halaman-halaman tersebut adalah mengenai keutamaan seseorang yang berilmu dibanding orang yang tidak berilmu, meskipun orang yang tidak berilmu itu seorang yang rajin ibadah. Dijelaskan bahwa: “... kelebihan orang yang alim atas orang yang ibadah yang tiada alim seperti kelebihanku atas umatku...”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan alim dalam konteks ini adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya itu dengan ikhlas. Jika orang berilmu ini tidak mengamalkan ilmunya, maka orang itu seperti keledai menumpang ia di atas belakangnya akan kitab yang besar padahal tiada mengetahui ia barang yang di dalamnya dan hanya satu diketahuinya itu berat jua... Selain itu, dijelaskan juga masalah-masalah keimanan, seperti tanda-tanda kiamat. Salah satunya disebutkan bahwa tiada berdiri kiamat hingga adalah orang yang baik dahulu jadi jahat daripada anak sejahat-jahat manusia... tanda lainnya adalah jika sudah dihinakan akan kebajikan, dan dimuliakan yang kejahatan... Selain masalah-masalah di atas, uraian tersebut juga menyinggung sedikit hal yang berkaitan dengan tasawuf. Dijelaskan bahwa ilmu tasawuf itu satu bahagi daripada ilmu syariat nabi Muhammad karena ilmu syariat itu tida bahagi: pertama ilmu fikih, kedua ilmu ushuluddin, ketiga ilmu tasawuf. Di antara tokoh-tokoh tasawuf yang disebut dalam teks ini adalah shaikh Aḥmad al-Qushsh, Shaikh Mul Ibrāhīm al-Krn, dan seorang muridnya dari Aceh, Shaikh Abdurrauf ‘Ali al-Jawi. Keterangan ini memberikan sedikit penjelasan adanya hubungan antara penulis teks dengan Shaikh Abdurrauf dan ajaran-ajarannya.
Sınıf numarası 86/TH/2/YPAH/2005
Koleksiyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Editör Oman Fathurahman/Mursyid
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete
Qalamos
Kalamos yönlendiriliyorsunuz...

Lütfen bekleyiniz.