[ID-MUSALI] 111/TS/39/YPAH/2005 | Kütüphane.osmanlica.com

[ID-MUSALI] 111/TS/39/YPAH/2005

İsim [ID-MUSALI] 111/TS/39/YPAH/2005
Basım Yeri Stiftung und Museum Ali Hasjmy - Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Konu mysticism
Tür Kitap
Dil Açin dil (Achinese)
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 28
Fiziksel Boyutlar 15,5 x 21,5 cm
Kütüphane: Kalamos
Demirbaş Numarası 111/TS/39/YPAH/2005
Kayıt Numarası ID11Book_manuscript_00000377
Lokasyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Notlar kertas yang dilapisi kain, Jilid naskah sudah lepas — kertas yang dilapisi kain, Jilid naskah sudah lepas — black — Arabic script → Naskh — paper — Dalam naskah ini sebetulnya terdapat beberapa teks yang terpisah-pisah. Akan tetapi, secara keseluruhan, teks-teks tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagian besar pembahasan isi teks dalam naskah ini, yaitu teks-teks yang terdapat pada bagian awal dan tengah naskah, berisikan ajaran tasawuf yang ditulis dalam bahasa Aceh. Namun demikian, beberapa lembar pada akhir naskah terdapat uraian tentang Kaidah-kaidah Islam yang ditulis dalam bahasa Melayu dan bahasa Aceh. Pada halaman awal naskah, bagian awal teks, pengarang menjelaskan pentingnya berzikir agar tetap berada pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan Allah. Sou yang ateuh zikrullah nyata Allah bak insannyan,. Insan Kamil yang meuzike yang nurani pakri rupa. Hana nyaweng hana badan yankeu Tuhan yang yue hamba. Sou han turi nyan makna nyan han sah Islam ngen Imannya. ”Orang yang berada pada zikrullah, Allah nampak padanya. Insan kamil yang berzikir nuraninya demikian adanya. Begitulah adanya Allah menyuruh hambanya. Barang siapa tidak mengenal yang demikian, maka Isalm dan Imannya tidak sah”. Kemudian, pengarang menjelaskan bahwa orang yang larut dalam zikir dapat tidak sadarkan diri, karena semua anggota tubuhnya sudah berada di dalam nur zikir. Pada halaman berikutnya, bagian teks lain, pengarang mengumpamakan orang berzikir dan lafal zikir dengan sebuah kapal yang lengkap dengan peralatannya sedang berlayar diatas laut yang tiada berair. Laut itu kemudian disebut dengan laut ahadiyah. Kapal kalimah kemudijih intan nahoda di dalam akai ngen pikir. Hati mualim, akai keupawang ceumprong lam laot tan ie. Laut tanzih umbak meupalen hayat ek treun teureupong lafad hu.  ”Kapal kalimah pengemudinya insan, nahkodanya di dalam akal yang berfikir. Hati yang mengetahuinya geraknya, akal menjadi pawang di dalam laut. Laut tanzik yang berombak yang naik turun dan terapun denga lafad hu”. Karena itu perlu pengangan yang kuat pada ijazah yang diberikan guru sehingga tidak putus tali kalimah ¬hu hu dalam berlayar. Kapal tersebut tidak akan karam dan akan terapung terus dengan kalimah hu. Pada bagian teks selanjutnya, pengarang menjelaskan tentang asal kejadian nabi Muhammad, Rasulullah. Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan Allah yang disebut juga dengan ta’yin awal. Jeut Muhammad phoun-phoun that bak Nur Ahadiyah zat yang Esa.‘Diciptakan Muhammad pertama sekali pada Nur Ahadiyah zat yang Esa”. Prosesnya adalah Treun ahadiyah ubak wahdah Muhammadiyyah hakikat nama. Treun wahdah ubak wahidiyyah insan sabit Adam nama. ”Ahadiyyah turuk kepada Muhammadiyyah. Kemudian turun wahdah kepada wahidiyah sehingga adanya Adam. Pada bagian teks selanjutnya, pengarang menjelaskan hadis qudsi tentang ruh insan yang di dalamnya terdapat tujuh bintang. Selanjutnya, dalam bagian teks berikut, dijelaskan tubuh insan yang bermula dari tubuh Muhammad yang berasal dari zat Tuhan. Pada bagian teks berikutnya, terdapat uraian tentang pembahasan hakikat zat Allah sebagai wujud yang Esa. Zat Allah diumpamakan sebagai imam dan Muhammad sebagai makmum dalam musalla. Bagian teks berikutnya, dijelaskan bahwa  semua yang ada di dalam langit tujuh dan bumi yang tujuh bercahaya dengan nur rabbi. Diumpamakan Nur Tuhan di dalam kaca kandil yang terang benderang memberikan cahaya kepada sekalian alam. Demikian juga dengan ruh insan yang terang tidak pernah lenyap dengan nur rabbi. Pada akhir bagian teks ini dijelaskan juga pengiriman bacaan fatihah kepada Rasulullah saw., guru-guru dalam silsilah Naqshabandi, dilanjutkan dengan bacaan surah al-Ikhlas dan an-Nas sebanyak tiga kali. Dua teks terakhir berjudul Qawaid al-Islam yang di dalamnya membicarakan pertama sekali tentang syahadat yang wajib diucapkan oleh lidah dan dibenarkan oleh hati. Selanjutnya uraian tentang sifat-sifat Tuhan yang wajib diketahui oleh setiap orang Islam. Teks selanjutnya berjudul Ushul Tahqiq. Is teks adalah tentang fardu syahadah yang terdiri dari dua bagian, yaitu mengikrarkan kalimah syahadah dengan lidah dan mentasdiqkan maknanya dalam hati. Rukun syahadah terdiri dari empat perkara, yaitu mengikrarkan zat Allah, mengisbatkan segala sifatnya, mengisbatkan afal-Nya, dan membenarkan syahadat Rasulullah saw. dalam teks ini juga dijelaskan Iman, Islam dan Ihsan. Iman tegak di dalam hati, Islam tegak dengan bertaubat, dan Ihsan dengan nyawanya.
Sınıf numarası 111/TS/39/YPAH/2005
Koleksiyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Editör Mursyid
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete

[ID-MUSALI] 111/TS/39/YPAH/2005

Basım Yeri Stiftung und Museum Ali Hasjmy - Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Konu mysticism
Tür Kitap
Dil Açin dil (Achinese)
Dijital Evet
Yazma Evet
Sayfa Sayısı 28
Fiziksel Boyutlar 15,5 x 21,5 cm
Kütüphane Kalamos
Demirbaş Numarası 111/TS/39/YPAH/2005
Kayıt Numarası ID11Book_manuscript_00000377
Lokasyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Notlar kertas yang dilapisi kain, Jilid naskah sudah lepas — kertas yang dilapisi kain, Jilid naskah sudah lepas — black — Arabic script → Naskh — paper — Dalam naskah ini sebetulnya terdapat beberapa teks yang terpisah-pisah. Akan tetapi, secara keseluruhan, teks-teks tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagian besar pembahasan isi teks dalam naskah ini, yaitu teks-teks yang terdapat pada bagian awal dan tengah naskah, berisikan ajaran tasawuf yang ditulis dalam bahasa Aceh. Namun demikian, beberapa lembar pada akhir naskah terdapat uraian tentang Kaidah-kaidah Islam yang ditulis dalam bahasa Melayu dan bahasa Aceh. Pada halaman awal naskah, bagian awal teks, pengarang menjelaskan pentingnya berzikir agar tetap berada pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan Allah. Sou yang ateuh zikrullah nyata Allah bak insannyan,. Insan Kamil yang meuzike yang nurani pakri rupa. Hana nyaweng hana badan yankeu Tuhan yang yue hamba. Sou han turi nyan makna nyan han sah Islam ngen Imannya. ”Orang yang berada pada zikrullah, Allah nampak padanya. Insan kamil yang berzikir nuraninya demikian adanya. Begitulah adanya Allah menyuruh hambanya. Barang siapa tidak mengenal yang demikian, maka Isalm dan Imannya tidak sah”. Kemudian, pengarang menjelaskan bahwa orang yang larut dalam zikir dapat tidak sadarkan diri, karena semua anggota tubuhnya sudah berada di dalam nur zikir. Pada halaman berikutnya, bagian teks lain, pengarang mengumpamakan orang berzikir dan lafal zikir dengan sebuah kapal yang lengkap dengan peralatannya sedang berlayar diatas laut yang tiada berair. Laut itu kemudian disebut dengan laut ahadiyah. Kapal kalimah kemudijih intan nahoda di dalam akai ngen pikir. Hati mualim, akai keupawang ceumprong lam laot tan ie. Laut tanzih umbak meupalen hayat ek treun teureupong lafad hu.  ”Kapal kalimah pengemudinya insan, nahkodanya di dalam akal yang berfikir. Hati yang mengetahuinya geraknya, akal menjadi pawang di dalam laut. Laut tanzik yang berombak yang naik turun dan terapun denga lafad hu”. Karena itu perlu pengangan yang kuat pada ijazah yang diberikan guru sehingga tidak putus tali kalimah ¬hu hu dalam berlayar. Kapal tersebut tidak akan karam dan akan terapung terus dengan kalimah hu. Pada bagian teks selanjutnya, pengarang menjelaskan tentang asal kejadian nabi Muhammad, Rasulullah. Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan Allah yang disebut juga dengan ta’yin awal. Jeut Muhammad phoun-phoun that bak Nur Ahadiyah zat yang Esa.‘Diciptakan Muhammad pertama sekali pada Nur Ahadiyah zat yang Esa”. Prosesnya adalah Treun ahadiyah ubak wahdah Muhammadiyyah hakikat nama. Treun wahdah ubak wahidiyyah insan sabit Adam nama. ”Ahadiyyah turuk kepada Muhammadiyyah. Kemudian turun wahdah kepada wahidiyah sehingga adanya Adam. Pada bagian teks selanjutnya, pengarang menjelaskan hadis qudsi tentang ruh insan yang di dalamnya terdapat tujuh bintang. Selanjutnya, dalam bagian teks berikut, dijelaskan tubuh insan yang bermula dari tubuh Muhammad yang berasal dari zat Tuhan. Pada bagian teks berikutnya, terdapat uraian tentang pembahasan hakikat zat Allah sebagai wujud yang Esa. Zat Allah diumpamakan sebagai imam dan Muhammad sebagai makmum dalam musalla. Bagian teks berikutnya, dijelaskan bahwa  semua yang ada di dalam langit tujuh dan bumi yang tujuh bercahaya dengan nur rabbi. Diumpamakan Nur Tuhan di dalam kaca kandil yang terang benderang memberikan cahaya kepada sekalian alam. Demikian juga dengan ruh insan yang terang tidak pernah lenyap dengan nur rabbi. Pada akhir bagian teks ini dijelaskan juga pengiriman bacaan fatihah kepada Rasulullah saw., guru-guru dalam silsilah Naqshabandi, dilanjutkan dengan bacaan surah al-Ikhlas dan an-Nas sebanyak tiga kali. Dua teks terakhir berjudul Qawaid al-Islam yang di dalamnya membicarakan pertama sekali tentang syahadat yang wajib diucapkan oleh lidah dan dibenarkan oleh hati. Selanjutnya uraian tentang sifat-sifat Tuhan yang wajib diketahui oleh setiap orang Islam. Teks selanjutnya berjudul Ushul Tahqiq. Is teks adalah tentang fardu syahadah yang terdiri dari dua bagian, yaitu mengikrarkan kalimah syahadah dengan lidah dan mentasdiqkan maknanya dalam hati. Rukun syahadah terdiri dari empat perkara, yaitu mengikrarkan zat Allah, mengisbatkan segala sifatnya, mengisbatkan afal-Nya, dan membenarkan syahadat Rasulullah saw. dalam teks ini juga dijelaskan Iman, Islam dan Ihsan. Iman tegak di dalam hati, Islam tegak dengan bertaubat, dan Ihsan dengan nyawanya.
Sınıf numarası 111/TS/39/YPAH/2005
Koleksiyon Stiftung und Museum Ali Hasjmy
Editör Mursyid
Lisans CC0 1.0
Proje Nusantara
Düzenleme durumu First input complete
Qalamos
Kalamos yönlendiriliyorsunuz...

Lütfen bekleyiniz.